Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Berbicara terkait keris Madura, dalam kitab Pangataoan Soal Pamor Keris ban Khasiat Epon e Polo Madhureh (Pengetahuan Soal Pamor Keris dan Khasiatnya di Pulau Madura) karya Raden Tumenggung Ario Zainalfattah Notoadikusumo, disebutkan tentang cara orang dahulu membuat keris.

Dulu, ketika seorang istri atau anak perempuannya mengandung, orang tuanya mulai membuat pusaka keris untuk anak yang ada dalam kandungan, pusaka untuk anak yang akan lahir, dan untuk kehidupan selanjutnya.

Kalau saja anak yang lahir adalah laki-laki, maka pusaka itu akan diserahkan kepada anak laki-lakinya. Dan kalau saja anak yang lahir adalah perempuan, maka akan diserahkan kepada menantunya kelak.

Proses Pembuatan Keris Madura dalam Dimensi Budaya dan Pemaknaan Sekep

Caranya, besi yang akan dibuat keris atau dibuat tombak mulai diletakkan di bawah bantal perempuan yang mengandung, agar memperoleh petunjuk dari Allah SWT tentang waktu kapan keris bisa mulai dibuat. Kemudian dipuasai, diriyadhai dengan segala macam riyadhah.

Ketika sudah memperoleh tanda atau petunjuk dari Allah SWT, besi yang semula diletakkan di bawah bantal kemudian dibawa ke tempat yang ramai, seperti ke sebuah pasar dan semacamnya, dan ketika besi ini sudah tidak tampak, atau tidak bisa dilihat oleh orang lain, besi berarti dianggap sudah diperbolehkan untuk dibuat menjadi keris.

Jika besi yang diletakkan di pasar masih tampak bagi orang lain, besi itu akan kembali dibawa pulang untuk kembali diletakkan di bawah bantal, kemudian dipuasai dan diriyadhai kembali, sampai besi benar-benar tidak bisa tampak di mata manusia. Besi yang tidak bisa dilihat oleh manusia dianggap memiliki arti bisa dibuat keris, dan besi itu disebut dengan calon.

Di Sampang dan sekitarnya, kami memiliki forum Pengajian Fikih Sikap (Sekep) yang menjadi ruang belajar bersama tentang pusaka seperti keris dan tombak dan kitab karya Raden Zainalfattah yang menjadi kurikulum.

Naskah yang ada di tangan kami ditulis dan disalin menjadi tulisan Arab yang berbahasa Madura (Pegon) oleh KH. Muhammad Muzammil Minhaji adalah seorang kiai pengasuh pesantren di Sumber Anyar, Pamekasan.

Menurut Mien A. Rifai dalam Sèkep Pelambang Kejantanan Seorang Pria Madura, istilah sekep sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain karena tidak dimilikinya perwujudan konsep dengan pengertian yang serupa.

Ia memiliki medan makna yang sangat luas sehingga selain sekep bermakna senjata untuk membela diri, juga bermakna persediaan, bekal, pegangan, penangkis dan penangkal bala petaka, penambah kepercayaan diri. Oleh kami, sekep dipaksa diterjemahkan menjadi sikap atau perilaku yang didasarkan pada pendirian dan keyakinan.

Karakter Keris Baru dan Keris Lama: Material dan Spiritual

Pada malam 1 Suro kemarin, kami mengaji seputar keris kepada KH. Salehoddin, seorang ahli dan penjamas keris di kediaman beliau di Dusun Mandangin, Desa Aeng Sareh, Sampang Madura.

Kyai Saleh banyak belajar tentang keris kepada seorang ahli di Sragen dan Banyuwangi puluhan tahun silam. Jamas yang oleh masyarakat Madura disebut bhereng menurut Kyai Salehoddin keris sebagaimana manusia dimandikan agar supaya bersih dan khasiatnya semakin keluar, beberapa orang yang datang abhereng keris karena keris miliknya datang ke mimpi dalam tidur pemiliknya, minta dimandikan.

Seorang peserta pengajian bertanya kepada Kyai Saleh tentang keris yang dianggap memiliki karakter tertentu sehingga cocok dan tidak cocok bagi orang-orang tertentu.

Dalam menanggapi pertanyaan itu, Kyai Saleh secara historis mengelompokkan keris paling tidak ke dalam dua tradisi. Pertama, tradisi keris Majapahit yang memilih-milih orang. Secara fisik, keris Majapahit bentuknya langsing dan tipis.

Kedua, keris tuban (tobhen) yang tidak milih-milih orang, secara fisik bentuknya lebar dan tebal. Zaman dulu, menurut Kyai Saleh, keris Majapahit setelah selesai dibuat digantungkan di pohon yang hidup, Pohon itu kemudian menjadi kering. Sedangkan keris Tuban tidak demikian, setelah selesai dibuat, digantungkan di sebuah pohon, kemudian pohon itu menjadi semakin bersemi.

Untuk mengetahui keris cocok atau tidak cocok untuk seseorang, biasanya pemiliknya akan merasa bingung (beringsang) kalau tidak cocok ketika menyimpannya.

Dalam proses pembentukan pamur keris, dalam Zainalfattah disebutkan tentang ragam besi yang memiliki tabiat masing-masing berdasarkan proses penciptaan besi, seperti besi dengan tabiat manis garam (manis bhuje) dan manis asin dan lain sebagainya.

Selain menyangkut tabiat, besi banyak macamnya, seperti besi polosani, besi maliku, besi karang kijang, besi karang semut, besi sambojo dan besi kalintung. Pamur muncul setelah melalui pencampuran dua atau tiga jenis besi yang berbeda-beda.

Tapi, menurut Kyai Saleh, keris setelah selesai dibuat sifatnya masih polosan, kemudian keris dibungkus menggunakan kain berwarna putih dalam beberapa waktu, dibacakan doa sampai pamurnya keluar secara supranatural. Tambahnya, yang membedakan antara keris baru dan keris lama adalah materialnya adalah spiritualnya yang berbeda.

Sedangkan menurut Mas Ilung, ahli dan kolektor keris, ilmu tentang besi keris ini terputus dan secara spiritual juga banyak terputus, jadi keris lama dan keris baru memang berbeda.

Pusaka Hari Ini: Mencabut Keris Secara Gaib di Tempat Keramat

Dalam dunia perkerisan hari ini, sering dijumpai orang-orang yang mengaku telah mencabut keris di tempat-tempat keramat secara gaib, seperti di petilasan atau kuburan para leluhur (bhuju’).

Kami bertanya kepada Kyai Saleh tentang situasi dan kondisi demikian, yang sering dijumpai dalam dunia perkerisan di Madura.

Kyai Saleh kemudian memberikan jawaban tentang mencabut keris di tempat para bhuju itu lebih banyak yang sulap dan sirkus, karena banyak orang yang mengaku membeli keris dari hasil mencabut itu setelah sampai padanya, kemudian ia memeriksa, ternyata banyak keris baru. Pamornya saja terbuat dari ruji peleg sepeda motor.

Menurut Kyai Saleh mencabut keris dari tempat para leluhur bisa saja tapi tidak dilakukan oleh orang sembarangan, harus dikerjakan oleh orang yang masih satu nasab, bahkan kalau sudah keturunannya kadang tidak perlu berusaha mencabut, keris bisa datang sendiri kalau kepada keturunannya.

Keris kuno memang benar-benar canggih, seperti keris melati rinonce (melateh sato’or) ketika ditaruh bunga melati yang belum mekar di atasnya, kemudian menjadi mekar. Dan kecanggihan itu bukan dibentuk hanya oleh material, tetapi juga oleh proses kematangan spiritual yang panjang.

Hasani Utsman adalah pembaca dan penulis seputar Madura, menulis beberapa karya, baik fiksi atau non-fiksi, akan menerbitkan buku berjudul "Filsafat Humor Madura".

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Adat Pernikahan Madura: Tata Rias hingga Tayub

Adat Pernikahan Madura: Tata Rias hingga Tayub

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Makna Malam Satu Suro: Tradisi Madura yang Sarat Filosofi Spiritual

Makna Malam Satu Suro: Tradisi Madura yang Sarat Filosofi Spiritual

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar