
Makin banyak saya membaca buku, makin saya yakin bahwa klasifikasi genre buku itu nggak perlu-perlu amat. Pada akhirnya, saya kembali seperti anak kecil lagi: membaca apa saja yang menurut saya menarik tanpa perlu memusingkan apakah itu fiksi atau bukan, horor atau misteri. Ribet!
Toh sejatinya, buku itu bebas tafsir. Salah satu contohnya ya Animal Farm ini. Bagi saya, Animal Farm memiliki salah satu ciri buku yang bagus: cocok dibaca bahkan jauh melampaui zamannya, apalagi in dis economy.
Contoh lainnya adalah bagaimana ia dapat ditafsirkan secara berbeda tergantung siapa penerjemahnya, siapa penerbitnya, siapa pembacanya, dan siapa presidennya!
Suka-suka pembaca dengan persepsinya masing-masing, lah.
Persepsi dibentuk tak hanya lewat penulis, namun juga penerjemahnya.
Saya sendiri membaca 3 versi Animal Farm: versi bahasa Inggrisnya, versi terjemahan Bakdi Soemanto, dan terjemahan Mahbub Djunaidi, yang baru-baru ini saya hatamkan.
Ketiga versi tersebut sama-sama menarik, namun yang terakhir sangat membekas. Mahbub Djunaidi, yang menerjemahkan Animal Farm menjadi “Binatangisme” membawa suasana lokal yang kental. Mulai dari bahasa, istilah, sampai umpatan, semuanya dengan berani diterjemahkan ke dalam bahasa yang kasar, merakyat, bahkan terkesan sangat “jalanan”.
Bayangkan jika George Orwell adalah orang Betawi pinggiran kota di era 70-an yang kebetulan memahami marxisme kemudian menulis novel. Seperti itulah “rasa”nya. Ibarat mbok jamu bikin matcha greentea campur kapulaga, tapi kok rasanya jadi enak. Kira-kira seperti itu.
Saat bicara soal buku terjemahan, nama penerjemah seringkali disepelekan. Bukan hanya dipandang sebelah mata, tapi bahkan tak dilihat.
Padahal, dengan meminjam mata, tangan, kepala, serta sedikit sakit punggung penerjemahlah kita bisa membaca sebuah karya luar.
Dalam konteks ini, perbedaan penerjemah menjadi bahasan yang lebih menarik ketimbang memperdebatkan genre sebuah novel.
Soalnya bagaimana bahasa disajikan dan disusun lebih penting daripada bahasa itu sendiri. Begitu pula di sisi kita sebagai pembaca, cara kita membaca kadang lebih penting daripada apa yang kita baca.
Keduanya berakar pada satu fenomena: persepsi. Persepsi bukan hanya mengubah cara pandang, tetapi juga menciptakan pemaknaan terhadap objek itu sendiri.
Kodifikasi dan klasifikasi genre pun juga masalah persepsi, kok. Saya pernah menyaksikan perdebatan 3 orang yang ribut mengklasifikasikan Sapiens-nya Harari. Apakah ia buku sains, sejarah, atau esai propaganda. Endingnya mereka sepakat kalau ini buku zionis!
Pembagian genre atau klasifikasi buku sering kali berubah sepanjang zaman, dan bahkan antar perpustakaan saja sangat mungkin berbeda. Makanya bagi saya, klasifikasi buku ini cuma masalah persepsi saja, meskipun begitu tetap mengacu pada keidah tertentu. Sama seperti buku Animal Farm ini.

Jika saya disuruh menilai buku Animal Farm ini buku soal apa, maka saya akan bilang dengan mantap bahwa buku ini harusnya bergenre sejarah.
Saya bisa berdebat seharian bahwa seluruh sejarah umat manusia diringkas dalam satu buku ini: pola pemerintahan, kerakusan manusia, kebobrokan moral, pergulatan kekuasaan, sampai otokritik kelas pekerja yang pandir.
Segalanya hanya pola yang berulang. Dari kacamata sejarah, manusia dikutuk untuk mengulang nasib. Coba tengok alur cerita dan penokohannya.
Buku ini mengisahkan tentang para hewan di peternakan Pak Tua Jones yang suka berjudi, mabuk, dan sesekali menyiksa hewan dengan jam kerja tak masuk akal. Sewaktu-waktu siapapun bisa dijual ke pasar atau disembelih saat musim dingin tiba.
Atas dasar menggugat nasib yang tak adil itulah, muncul kesadaran pada para hewan.
Kesadaran itu ibarat wahyu pencerahan yang menitis pada para nabi. Di Animal Farm, alih-alih nabi, yang sadar adalah babi. Babi ini, yang bernama si Mayor Tua, mewariskan ide bahwa suatu saat para hewan seantero Inggris Raya akan mendapat kebebasan.
Ide ini kemudian menetap dalam hati setiap hewan, lalu menyala menjadi api revolusi.
Singkat cerita, para hewan yang merasa ditindas ini kemudian mulai bersiasat untuk mengusir Pak Tua Jones dan mengambil alih peternakan untuk dikelola oleh para hewan secara langsung. Beberapa tahun setelah nabi, maksudnya babi ini meninggal, tekad itu terlaksana.
Para hewan dipimpin oleh para babi penerus yang tak kalah cerdas dan sudah belajar baca tulis untuk menyiapkan diri dalam mewujudkan kudeta. Pendidikan memang jadi alat perlawanan paling mantab.
Mereka bahkan membuat 10 perintah yang mirip dengan torahnya Nabi Musa. Semua komplit. Instrumen kedaulatan seperti bendera, ikrar, lambang, bahkan lagu kebangsaan.
Pada suatu kesempatan, mereka berhasil mengusir Pak Tua Jones sekeluarga. Awalnya, semua bersuka cita karena rasa gembira atas keberhasilannya menduduki peternakan seperti yang mereka impikan.
Tapi namanya mimpi hanya sekejab, dan yang namanya kekuasaan pasti menuntut tumbal. Perseteruan soal siapa yang akan memimpin menjadi perpecahan pertama.
Revolusi itu menghadirkan dua tokoh, pertama adalah Napoleon, si Babi tamak dan culas melawan Snowball, babi cerdas yang sangat teknis. Napoleon didukung oleh Squealer yang sangat piawai berpidato dan menghasut dibantu segerombolan anak anjing ganas yang hanya tunduk pada Napoleon.
Dua anak kunci sukses untuk berkuasa: kekuatan militer dan kuasa media.
Babi Napoleon ini ibarat pemimpin yang tidak punya modal program dan rencana saat kampanye. Ia mengandalkan propaganda media lewat babi Squealer dan kekuatan militer dengan segerombolan anjing ganas. Omon-omon doang.
Di sisi lain, Snowball yang memiliki rencana matang untuk membangun kincir angin dan generator listrik, menyimbolkan kaum cendekiawan yang pada akhirnya harus kalah dan difitnah.
Ada juga tokoh kuda naif bernama Boxer yang percaya bahwa dengan bekerja keras, ia bisa membuat hidup lebih baik. Naifnya, setelah tenaganya habis dan tak ada gunanya, para babi bahkan melakukan hal yang lebih buruk daripada sekadar membuang Boxer begitu saja. Sebudak-budaknya budak korporat di bawah kepemimpinan otoriter.
Dari Animal Farm kita belajar bahwa ketamakan tak punya batas. Siapapun yang bilang bahwa pejabat perlu digaji tinggi supaya tidak korupsi mungkin perlu membaca Animal Farm dan disertai sedikit reparasi otak.
Dari Animal Farm juga kita paham bahwa bekerja keras seumur hidup, tetap miskin, dan mati menderita itu nyata. Sebuah fenomena dari tamaknya penguasa.
Sama seperti kemiskinan, kebodohan, dan kelaparan yang sebenarnya tak pernah menjadi penyebab. Ia adalah akibat sekaligus indikator dari timpangnya sebuah pemerintahan yang tamak. Buku sejarah dan fiksi sudah terlalu banyak mengajarkan kita tentang hal tersebut.
“Life imitates art” begitulah pepatah mengibaratkan. Banyak sekali hal yang mirip dan relate di sekitar kita dengan penokohan yang ada dalam Animal Farm. Bahkan kita sedang mengalami langsung tragedi dalam Animal Farm tanpa harus baca bukunya. Kita sedang menjadi kuda, domba, ayam, dan mungkin jadi babi!
Penokohan dalam Animal Farm ini serupa stiker permen karet seribuan: bisa dilekatkan ke manapun. Pemaknaan paling populer adalah si Babi Napoleon yang diidentikkan dengan kepemimpinan Stalin, Snowball sebagai Trotsky, kuda Boxer sebagai kaum proletar, serta Clover sebagai kaum perempuan yang cerdas namun tak punya kuasa. Jika di Indonesia, mereka jadi siapa, ya?
Nasib para hewan yang ada di bawah kepemimpinan Napoleon bisa ditebak: jelas tak lebih baik ketimbang saat masih ada Tuan Jones. Bagaimana akhir kisah ini, silakan baca sendiri.
Dari segi plot, sebenarnya Animal Farm tidak dihebohkan dengan plot twist yang dramatis. Namun, perasaan geram sepanjang membaca buku, serta senyum kecut ketika membaca adalah hal yang paling membekas bagi saya. Bukan karena plotnya, tapi bagaimana jalan cerita selalu dibenturkan dengan kegetiran.
Meski bukan di plot, kekuatan Animal Farm justru terletak pada simbolisasi dalam karakter maupun peristiwa yang ada di dalamnya. Setiap orang yang memahami pahitnya kehidupan, kegelisanan terhadap penindasan yang semena-mena pasti akan relate dengan buku ini. Di situlah letak keindahannya. Semua orang merasakannya.
Alih-alih hadir sebagai sebuah buku fiksi, Animal Farm adalah sebuah monumen peringatan. Ia mengingatkan lewat tokoh Napoleon bahwa kekuasaan yang absolut pastilah akan korup. Ia mengukir dengan guratan tajam bahwa kebodohan hanya akan melanggengkan tiran.
Tokoh Squealer mengingatkan kita bahwa media propaganda dan buzzer sangat mengancam masa depan masyarakat, mampu mengubah sejarah, dan memelintir realitas.
Dari Animal Farm, saya belajar bahwa rakyat yang pandir, bodoh, dan mudah dihasut adalah sebuah kondisi yang sengaja diabadikan.
Animal Farm adalah tentang hubungan antarkelas, antarlapisan, dan manusia itu sendiri. Satu hal yang saya notice adalah bagaimana tiap spesies hewan dalam peternakan sengaja diadu, padahal mereka sama-sama menderita.
Kebanyakan hewan-hewan yang melawan rezim babi digambarkan dengan terlalu lugas. Mereka mati dicabik anjing, dibawa ke tukang jagal, atau bunuh diri liang besar di tengah peternakan dengan perut lapar. Tokoh cendekiawan, yang disimbolkan sebagai gagak hanya mempu berkaok tanpa ada yang mendengarkan.
Saat membaca Animal Farm, saya juga sedang membaca ulang buku “Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paulo Freire. Seperti gagak dalam Animal Farm, kelas pendidik, penggerak, dan pemikir hanyalah sosok hitam dekil yang berisik dan mengganggu.
Kekuasaan yang mengabaikan fungsi pendidikan, usianya tak akan lama.
Tokoh Clover yang paham aoa yang terjadi namun mengambil jalan aman, akan dipaksa menyaksikan kematian tragis dari teman-temannya dengan penuh penyesalan. Saya ingat bagaimana Dante dalam Inferno menggambarkan bahwa ada tempat khusus di neraka untuk orang-orang yang abai dan main aman seperti ini.
Penggambaran kawanan ternak yang bodoh dan abai ini berulang kali ditekankan dalam Animal Farm. Setiap hewan ternak adalah kita dengan karakter dan perannya masing-masing.
Baik dalam Animal Farm maupun dalam kehidupan nyata, pendidikan adalah alat pembebasan. Setidaknya itulah yang saya dapat dari Animal Farm.
Tapi itu kan hanya tafsiran suka-suka saya saja. Toh segalanya diserahkan kepada masing-masing pembaca.
Pemaknaan tiap orang bisa sangat beragam. Kadang begini, kadang begitu, dan bahkan kadang berubah setiap kali sebuah karya dibaca ulang.
Sama seperti bagaimana saya akan berargumen bahwa Animal Farm adalah novel sejarah, saya pun bisa saja mengatakan hal berbeda di saat yang berbeda pula.
Karena pemaknaan bersifat dinamis, perspektif pun dapat berubah. Di lain waktu, pendapat saya soal Animal Farm pun bisa jadi juga berubah.
Kalau yang bertanya berseragam militer dan membawa bedil saat saya sedang baca buku, saya akan bilang kalau buku ini cuma fable hewan di peternakan. “Kaya Shaun the Sheep, Pak.” Takutnya saya disangka kontra terhadap megaproyek pembangunan kincir angin untuk ketahanan pangan itu.
Di waktu yang lain lagi, saya bisa membayangkan diri sedang rebahan bersama anak saya nanti sambil bercerita soal babi bernama Napoleon yang culas, kuda Boxer yang pekerja keras sampai mati, serta domba-domba yang suka menyanyikan yel-yel pro pemerintah.
Tentu saja sambil meyakinkan istri saya bahwa ini cerita dongeng anak. “Nggak ada unsur politiknya, kok.”
Di waktu yang lain pula, saya akan berkelakar bahwa buku Animal Farm ini adalah buku haram. Kenapa? Sebab mengandung babi.