Mempersoalkan Panggilan “Mbak” dalam Kajian Honorifik

Mempersoalkan Panggilan “Mbak” dalam Kajian Honorifik

Sebelum mengulas soal apa itu honorifik, perlu saya ceritakan konteks tulisan ini.

Tulisan ini bermula dari kekhawatiran dalam diri saya ketika terlibat diskusi selintas dengan salah seorang teman dekat, seorang penulis di Madurapedia juga, yang menanyakan mengapa saya menggunakan sapaan terhadap orang lain di dalam tulisan saya.

Teman saya itu mengungkapkan bahwa ada seorang pembaca yang mempertanyakan hal ini. Saya tentunya gembira sekali mendengar bahwa tulisan saya dibaca.

Apalagi, akhirnya muncul pertanyaan yang menggugah dialektika.

Mempertanyakan Panggilan “Mbak” dan “Mas”

Saat itu, kawan saya bercerita soal si penanya yang menitipkan persoalan mengapa menggunakan kata sapaan “mas” atau “mbak” dalam sebuah tulisan yang bukan percakapan informal.

Jawaban saya, tentu karena tulisan tersebut merupakan opini, dan bukan jurnal ilmiah. Artinya ya suka-suka saya saja. Namun, alangkah tidak bijaknya menjawab demikian. Bukan tanpa sebab, pertimbangan saya sederhana saja. Sebab saya tinggal di Jawa.

Istilah ‘mbak’ dan ‘mas’ bagi saya merupakan istilah yang akrab namun juga tidak menggugurkan impresi hormat terhadap penyandang sebutannya. Selain itu, sapaan ini merupakan bentuk paling jamak dan simpel bagi saya sebagai orang yang tumbuh di subkultur Jawa.

Tanpa disadari, hal ini telah tertanam jauh dalam budaya serta kebiasaan orang-orang dengan latar belakang kultur yang sama. Mari kita belajar bahasa dan coba memahami seperti apa konteks budayanya.

Seandainya dibahas dalam kultur berbeda, maka akan lain cerita. Masih ingat fenomena “don’t call me mbak” yang sempat viral? Itu adalah bukti adanya gesekan budaya dalam realitas sosial masyarakat kita. Teks tak bisa hanya dibaca secara semena-mena. Ia terikat pada masyarakat, budaya, sosial, serta zaman.

Sama halnya dengan mengapa kita memanggil Gus Dur dengan “Gus” padahal kita bukan santri beliau. Mengapa Dr. Tirta disapa “dok” di luar rumah sakit, dan mengapa kita memanggil “Bung Hatta” seolah kita teman nongkrong beliau?

Pertanyaan yang tak penting memang, namun begitulah ilmu bahasa. Kita belajar supaya mengurangi kesalahpahaman dan memahami manusia. Saya pun mafhum jika si penanya adalah orang awam yang biasanya tak benar-benar mendalami hal-hal terkait bahasa dan budaya.

Namun, perlu disadari bahwa sapaan ini melekat erat lebih daripada yang kita duga, terutama pada dimensi sosial dan kebudayaan, apalagi di dunia pop culture modern. Bahkan menjadi instrumen politis yang terpatri dalam lembar sejarah bangsa kita.

Bagaimana Kamu Ingin Disapa?

Menyebut seseorang sebagai mbak, mas, atau bung tak semata-mata didasari alasan kesopanan. Kecenderungan untuk menyematkan kata sapaan ini dapat dikaji dalam bidang bahasa dan sastra yang lebih komprehensif. Dalam ilmu linguistik, kata sapaan ini masuk dalam kategori “honorifik”. Bagi yang tak mendalami bahasa, istilah ini mungkin terdengar asing, namun menyenangkan untuk dibahas. 

Kata sapaan, sebagai salah satu bentuk dari fungsi honorifik, bukan hanya sebatas teori bahasa saja. Ia hidup dalam keseharian kita dan merupakan sebuah fenomena yang merekam dinamika budaya, sosial, dan bahkan hegemoni kekuasaan.

Sapaan, sebutan, gelar, atau panggilan membentuk identitas sosial. Identitas membentuk fenomena, dan fenomena membentuk realitas.

Ingat bagaimana KDM membangun citra dan relasi kedekatan dengan membranding dengan sematan “bapak aing” beberapa waktu lalu? Ingat bagaimana Gibran membikin program Lapor Mas Wapres yang menggunakan honorifik?

Atas dasar motif honorifik inilah banyak orang berlomba-lomba ingin dipanggil Haji sebelum terjun di kancah politik, banyak orang mengaku habib untuk mendapat legitimasi, dan kian marak terjadi pemalsuan jurnal demi meraih jabatan dan gelar kehormatan. 

Dalam hal ini, honorifik adalah alat yang ampuh untuk membangun karakter, menunjukkan kelas sosial, dan menciptakan dinamika antartokoh.

Honorifik adalah dokumen hidup dari relasi antar manusia dalam sebuah kebudayaan. 

Bolehkah Memanggil Presiden dengan Sebutan “Bro”?

Salah satu contoh paling brilian dari rekayasa sosial melalui honorifik adalah penyematan gelar “Bung Besar” kepada Soekarno dan Hatta. Pada fase awal kemerdekaan, bangsa Indonesia membutuhkan simbol pemersatu dan pemimpin yang dipercaya.

Bagaimana bisa di masa itu sebutan “bung” disematkan kepada presiden? Ibarat saat ini, sebutan “bung” itu mirip dengan panggilan “bro”.

Pertama, aspek branding dan rasa percaya. Kata “Bung” adalah sapaan egaliter yang populer di kalangan pergerakan nasionalis. Ia menghapus jarak feodal, menyiratkan persaudaraan dan kesetaraan di antara para pejuang.

Namun, jika hanya “Bung”, posisi Soekarno-Hatta bisa disamakan dengan aktivis lainnya. Penambahan kata “Besar” di belakangnya menciptakan kategori baru. Ini adalah sebuah genius branding: mempertahankan kedekatan (“Bung”) sekaligus menegaskan keistimewaan (“Besar”).

Gelar ini secara psikologis membangun kepercayaan rakyat karena melekat pada figur yang telah terbukti berjuang (kharisma personal) dan sekarang memegang mandat bangsa (otoritas legal).

Kedua, sapaan “Bung Besar” menciptakan jarak psikologis yang produktif. Ia tidak memisahkan pemimpin dari rakyat seperti “Paduka Yang Mulia” yang terlalu feodal, tetapi juga tidak membuatnya terlalu biasa sehingga kharismanya luntur.

Dari dimensi sosialnya, sapaan ini menciptakan solidaritas vertikal: rakyat merasa memiliki pemimpin yang “besar” namun tetap “saudara”. Ini sangat krusial untuk memobilisasi dukungan dan membangun legitimasi pemerintahan yang baru lahir di tengah chaos pascaproklamasi.

Hal ini mengingatkan saya pada sebutan “Pakde Jokowi” yang digunakan di masa kampanye untuk menunjukkan kedekatan dengan para pemilihnya. Partainya pun mengusung slogan yang serupa, yaitu citra sebagai partai “wong cilik“. Sebagai pembanding, seiring branding pria Solo itu makin runtuh saat ini, sebutan “Pakdhe” pun kian tenggelam.

Tak hanya terjadi pada skala nasional, di keseharian yang dekat pun fenomena ini dapat diamati. Kalau kita perhatikan saat ini, orang yang ingin dipanggil “bung” biasanya lekat dengan citra yang revolusionis, visioner, dan beda sendiri. Sebaliknya, orang yang ingin dipanggil “lora” atau “gus” biasanya tak lepas dari citra religiusitas.

Mudahnya, dalam kajian dimensi politik identitas, ini semua soal branding saja, baik disengaja maupun tidak.

Sebutan yang Mampu Melipat Jarak

Semakin populer sematan tersebut, semakin kuat branding terhadap sosok tersebut. Budaya populer juga menjadi lahan subur bagi evolusi dan penyebaran honorifik. Bahkan sering melampaui batas geografis aslinya.

Honorifik mampu melipat jarak, baik jarak secara geografis maupun jarak kedekatan secara emosional.

Salah satunya dapat kita temui di subkultur wibu. Bung Karno adalah salah seorang tokoh yang berhasil mencapai impian para wibu di Indonesia: yaitu punya waifu ori atau menikahi gadis Jepang.

Sistem honorifik Jepang sangat terkenal melalui anime, drama, dan film. Seperti penggunaan suffix -chan, -kun, maupun -sensei. Setali tiga uang dengan mas-mas pencinta Jejepangan, mbak-mbak fangirl K-pop pun demikian.

Sebutan oppa, noona, hyung, dan semacamnya memberi warna tersendiri dalam pop culture dewasa ini. Gelombang Korean Wave (Hallyu) mempopulerkan sistem honorifik Korea.

Penerapannya sangat praktikal. Panggilan -chan sering kali digunakan sebagai sufiks dalam nama panggung oleh streamer ataupun cosplayer untuk membangun branding mereka. Penggunaan oppa oleh seorang fangirl juga bukan sekadar sapaan, tetapi juga menegaskan identitasnya sebagai bagian dari komunitas, menunjukkan afeksi, sekaligus mengakui posisi idola yang lebih unggul.

Ini adalah contoh bagaimana honorifik tradisional (contoh: -chan atau oppa) diadaptasi untuk membangun hubungan parasosial dalam budaya pop modern.

Menyebarnya budaya pop membentuk tren dan ekspansi industri hiburan. Tujuannya adalah menciptakan profit dan menggerakkan ekonomi.

Honorifik dalam Ajaran Budaya Jawa adalah Jimat Ampuh Penolak Bala

Budaya Indonesia juga kaya dengan honorifik unik yang mencampurkan unsur lokal, agama, dan kepercayaan. Honorifik ini menegaskan bahwa nilai kebudayaan sering kali tercermin pada hal-hal yang kelihatannya sepele, namun justru krusial.

Sebutan “Mbah Merapi lagi onok gawe” untuk merujuk kepada aktivitas vulkanik gunung berapi atau sebutan “Ki Loreng” untuk Macan yang sering berpatroli di pinggiran desa menjadi cara nenek moyang kita membangun falsafah menyikapi tantangan alam.

Dalam tradisi Jawa, kekuatan alam dan makhluk di dalamnya sering dipersonifikasikan dan diberikan gelar honorifik. Memanggil gunung atau harimau dengan sebutan “Mbah” (Kakek) atau “Ki” (Bapak yang dihormati) adalah bentuk jimat pelindung—sebuah upaya untuk menolak bala dengan cara menghormati.

Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat bahwa alam memiliki kekuatan yang harus diajak “berdiplomasi” melalui bahasa. Di masa lalu, menyebutnya dengan nama biasa dianggap tabu dan dapat mendatangkan malapetaka.

Begitu juga dengan sebutan “Kiyai Kanjeng” pada acara Maiyahan yang merujuk pada konsep nada besutan Nevi Budianto, atau bahkan merujuk pada instrumen alat gamelan yang digunakan. Selain berfungsi sebagai peneguhan identitas, honorifik ini juga menciptakan sakralitas sekaligus rasa penghormatan.

Begitu melekatnya honorifik ini dalam identitas sosial, budaya, sejarah, serta politik membuat kita perlu memahami peran pentingnya.

Contoh yang saya jabarkan di atas hanya sekelumit saja. Masih banyak warisan honorifik di kebudayaan lain di luar Jawa yang menunjukkan realitas masyarakat dan budayanya.

Sayangnya, masih sedikit pembahasan dan literatur mengenai honorifik ini. Bagi saya pribadi, tulisan ini hanya sebatas utang penjelasan terhadap kawan saya serta seluruh pembaca Madurapedia.

Pada akhirnya, cara kita menyapa, tidak menunjukkan siapa orang yang kita sapa, tapi menunjukkan realitas dan identitas sosial kita sendiri.

Terjebak sebagai pegiat media yang kadang giat, kadang tidak. Saat ini sedang mengasuh Madurapedia dengan cara suka-suka.

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Adat Pernikahan Madura: Tata Rias hingga Tayub

Adat Pernikahan Madura: Tata Rias hingga Tayub

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Makna Malam Satu Suro: Tradisi Madura yang Sarat Filosofi Spiritual

Makna Malam Satu Suro: Tradisi Madura yang Sarat Filosofi Spiritual

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?