Jhembharate dan Gugatan atas Hari Jadi Kabupaten Sampang

Jhembharate dan Gugatan atas Hari Jadi Kabupaten Sampang

Menjelang suasana Hari Jadi Kabupaten Sampang ke-402, kemarin malam (13/12), bertempat di Pendopo Wakil Bupati Sampang, Jhembharate, Majelis Masyarakat Maiyah Sampang mengadakan Ajhâr Ampaghân.

Acara yang merupakan rutinan bulanan kali ini mengangkat tema Geneologi Madura Barat, mendatangkan dua pembicara.

Mengurai Genealogi Madura Barat dalam Ajhâr Ampaghân bersama Dua Sejarawan Muda

Pertama adalah Muhammad Rizki Taufan, seorang sejarawan muda Bangkalan, dan yang kedua adalah Umar Faruk seorang sejarawan muda dari Sampang. Ajhar Ampaghan dipandu oleh Bung Muis.

Ketika diminta memberikan prolog singkat, Umar Faruk menulis bahwa istilah Madura Barat merupakan batasan wilayah kekuasaan meliputi Bangkalan-Sampang yang muncul dan berkembang sejak era 1600-an.

Penamaan tersebut sebagai penegasan adanya entitas politik tersendiri dalam dinamika tokoh-tokoh Madura Barat di panggung sejarah Jawa, bahkan Nusantara.

Melacak Jejak Pra-Aksara dan Islamisasi di Sampang

Nama Cakraningrat dan Trunojoyo begitu masyhur di masyarakat luas. Namun episode kesejarahan sebelum dua tokoh ini masih sangat sepi diperbincangkan.

Padahal fakta historisnya, banyak topik yang tidak kalah urgen untuk terus digali lebih dalam terkait asal-muasal dan perkembangannya.

Tidak melulu soal kiprah politiknya, namun proses Islamisasi di ujung barat Madura yang merupakan hasil interaksi dengan otoritas raja setempat, bahkan sebelum pra-Islam (era Hindu-Budha).

“Genelologi Madura Barat perlu segera direkontruksi, baik berdsarkan informasi silsilah dan juga dari peninggalan benda-benda arkeologis yang masih berserakan.” Tulis Faruk.

Sampang dalam Catatan Kuno: Dari Migrasi Austronesia hingga Era Klasik

Dalam kesempatan kemarin malam, Taufan mempresentasikan laporan berjudul: Sampang dalam Arus Sejarah, Tokoh Sentral dan Geneologi Monarki.

Pertama, ia menjelaskan tentang cikal-bakal sejarah Sampang yang merujuk kepada ragam dan jenis sumber dan bukti sejarah.

Dari historigrafi hingga arkeologi sejak pra-aksara, hingga era klasik dengan bukti-bukti empirisnya di berbagai tempat di Sampang.

Ia mengkonfirmasi bahwa Pantai Utara Sampang sebagai salah satu titik migrasi bangsa Austronesia di era pra-aksara.

Contohnya seperti sebuah petilasan Nepa di bagian utara Sampang sebagai tempat kisah Raden Segara yang merupakan cikal bakal peradaban Madura.

Sedangkan tinggalan arkeologis pra-aksara Sampang juga tersebar dan masih bisa disaksikan di Pantai Utara Sampang seperti di Nepa, Toroan, dan Tamberu.

Dalam pemaparannya, Taufan menyinggung tentang kompleksitas hubungan antara Madura-Jawa di akhir Abad XV sampai Awal Abad XVI dan situasi saat itu di Madura, juga tentang respon atas runtuhnya Majapahit dan kehadiran Islam.

Salah satunya, kisah Lembu Peteng dan Sunan Ampel yang diyakini terjadi pasca tahun 1478-M,

Madura Barat di Abad 16-17: Dari Kedaulatan hingga Penaklukan Mataram

Sejak tahun 1500-an, sumber primer seperti De Houtman (1598) dan Van Neck (1601) telah menggambarkan tentang status Madura, agama dan posisi Sampang.

Ini menarik, terutama terkait bagaimana sampai akhir tahun 1500-an Sampang belum disebut secara eksplisit.

Selain itu juga bagaimana seluruh Madura pernah bersatu di bawah pimpinan seorang raja.

Madura disebut sebagai negara yang berdaulat penuh dengan Arosbaya sebagai ibu kotanya dan Islam sebagai agama resmi sekaligus menjadi mayoritas.

Dalam catatan Pires (1512 – 1515), Sampang belum disebut secara eksplisit, yang mana saat itu Madura dipimpin seorang raja (vassal).

Masyarakatnya masih menunjukkan loyalitas kepada Daha sebagai penerus Majapahit, di mana kala itu situasi keagamaan masyarakat Madura masih belum islam dan ditemui banyak pendeta.

Sampang baru ditulis secara eksplisit di awal abad 1600-an, dengan ragam sumber menyebutkan tentang Madura yang memiliki lebih dari 4 kota, yang tercatat di antaranya adalah Arosbaya, Blega, Sampang, Pakacangan, Pamekasan dan Sumenep.

Di periode ini, disebutkan dalam Dagh Register (1624), Madura sedang berperang menghadapi Mataram Islam.

Menurut Taufan, bukti-bukti arkeologis mengkonfirmasi Pesisir Selatan Sampang (Madegan) sebagai salah satu peradaban penting di Madura pada abad XVI-XVII.

Sampang dalam Pusaran Kekuasaan: Arosbaya, Mataram, dan VOC

Pasca-kemerdekaan Republik Indonesia, Sampang ditetapkan menjadi sebuah kabupaten pada tanggal 8 Agustus  tahun 1950.

Penetapan ini didasarkan pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pemerintahan Daerah Kabupaten di Jawa Timur.

Tepatnya setelah Madura bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada bulan Maret tahun 1950-M dengan RT. Moh. Iksan sebagai bupati pertama Sampang.

Sedangkan di zaman pra-kemerdekaan Indonesia, merujuk pada Taufan yang dutulis Kuijper (1865), sebelum tahun 1885-M, Bangkalan dan Sampang masih termasuk dalam kesatuan Madura Barat.

Sedangkan periode setelah itu, yaitu dari tahun 1885-1933-M seperti dalam catatan Top Dienst (1901) sudah disebut Kabupaten Sampang.

Dari tahun 1934-1949-M  Sampang sempat berubah menjadi Kawedanan dan digabungkan dengan Kabupaten Sampang.

Sejak periode 1885-M Sampang dipimpin oleh oleh R.T.A Kusumaadiningrat sebagai bupati pertama. Sejak saat itu sejarah Kabupaten Sampang yang dipimpin oleh seorang bupati telah dimulai.

Mencari Hari Jadi: Antara Candra Sengkala Memet, Kekalahan, dan Kemenangan

Orang dalam lingkaran Jhembharate, Umar Fauzi Ballah mengkonfirmasi kepada kedua pembicara tentang titik penetuan hari jadi Kabupaten Sampang.

Yaitu peristiwa yang merujuk kepada hari, tahun (periode) dan momentum apa?

Saat ini, jamak diketahui bahwa penentuan Hari Jadi Kabupaten Sampang merujuk kepada peristiwa diangkatnya Raden Praseno sebagai Cakraningrat 1 sebagai raja Madura di bawah kerajaan Mataram di bawa Sultan Agung, yaitu pada tanggal 23 Desember tahun 1624-M /12 Rabiul Awal.

Penentuan itu berdasarkan kronogram atau sistem penanda waktu dalam tradisi kebudayaan Jawa dengan menggunakan media gambar, relief, patung atau disebut dengan Candra Sengkala Memet untuk mewakili angka tahun suatu peristiwa bersejarah.

Debat Penentuan Hari Jadi: Momentum Inspiratif vs Tahun Kekalahan

Hal ini merupakan “sesuatu yang rumit” karena pembacaannya membutuhkan interpretasi gambar secara lebih mendalam.

Candra Sengkala Memet bisa dijumpai pada Gapura Paduraksa di Situs Rato Ebu Madegan Sampang yang terbaca “naga kapana titis ing midi” Sangkala.

Relief ini berupa seekor naga yang tertusuk panah hingga ke ekornya yang jika diartikan bermakna hitungan tahun ke-1546 Caka, atau 1624-M.

Menurut Mas Arie, seorang peserta Ajhar Ampaghan, Candra Sengkala Memet itu menunjukkan tahun duka dan merujuk kepada tahun jatuhnya kerajaan Madura.

Menurutnya, pengangkatan raja dalam tradisi Mataram di setiap tanggal 12 Rabiul Awal dihubungkan dengan momentum pengangkatan Cakraningrat 1 masih problematik.

Penentuan Hari Jadi Kabupaten Sampang di tahun kekalahan dan duka, ditakutkan menghasilkan penafsiran penduduk Sampang pada situasi kualat (ecapo’ belet).

Mempertanyakan Peristiwa di Balik Hari Jadi Sampang

Umar Faruk mengoreksi tentang penggunaan istilah “Hari Jadi Kabupaten Sampang” yang seharusnya merujuk kepada sejarah awal kabupaten dan bupati di Sampang.

Sedangkan Taufan dalam penjelasannya mengatakan bahwa seharusnya penetuan hari jadi Kabupaten Sampang merujuk kepada tanggal yang bersejarah.

Tepatnya yaitu peristiwa yang inspiratif dan superior, tidak hanya sekadar lomba tua-tuaan.

Ia kemudian menambahkan bahwa penentuan hari jadi ini, jika ditarik ke periode klasik akan banyak dijumpai kesulitan karena istilahnya “hari jadi” bukan “tahun jadi”.

Kesulitannya ada pada penentuan angka yang pasti.

Namun jika ia harus memberi rekomendasi tentang momentum yang bersejarah yang paling tepat adalah pada tanggal 13 Oktober tahun 1676-M sebagai penanda Pertempuran Gedobog.

Momen ini menjadi kemenangan besar bagi Trunajaya melawan pasukan Mataram yang dipimpin Amangkurat I, yang kemudian menjadi jalan bagi Trunajaya menguasai menguasai pesisir utara Jawa.

Opsi lain, bisa juga ditetapkan pada tanggal 2 Juli tahun 1677-M yang merupakan momentum Trunajaya menjatuhkan Keraton Mataram Islam di Plered.

Peristiwa yang secara de facto membuat Mataram benar-benar lenyap.

Kesulitannya jika merujuk pada tahun ini, pusat kekuasaan Trunajaya berpindah-pindah dan tidak tetap.

Sehingga, hari Jadi Sampang bisa juga merujuk kepada momentum deklrasi Trunajaya melawan VOC.

Kronik Ekspansi Penaklukan Sultan Agung ke Madura

Kronik ini disalin dari buku karya penulis berjudul Tengka Etika Sosial dalam Masyarakat Tradisional Madura yang merujuk kepada buku Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung tulisan H.J. de Graaf (1986).

Dalam sejarahnya, Sultan Agung (1613-1645 M) sebagai raja ketiga Kerajaan Mataram Islam telah mengerahkan kekuatan yang cukup besar dalam menaklukkan Madura.

Ia benar-benar berhasrat mengusai Madura hingga mengerahkan ekspedisi melalui dua jalur, yaitu melalui darat dan laut.

Disebutkan bahwa pada mulanya Sultan Agung mengirimkan enam puluh ribu prajurit dalam ekspedisi penaklukannya ke Madura melalui darat atau pedalaman.

Prajurit tersebut kemudian ditambah hingga mencapai delapan puluh ribu prajurit.

Karena terlalu banyak prajurit laki-laki yang dikirimkan, Mataram akhirnya mengalami krisis kaum laki-laki.

Akibatnya, sawah-sawah mengering karena tidak ada kaum laki-laki yang mengurus.

Dalam memperkuat ekspedisinya, kapal-kapal yang digunakan mengangkut beras ke Batavia, sementara dihentikan terlebih dahulu untuk membawa prajurit melalui jalur laut atau perairan.

Total keseluruhan prajurit baik yang di darat maupun di laut akhirnya mencapai seratus enam puluh ribu.

Dalam keterangan de Graff yang merujuk pada Serat Kandha mengenai cerita-cerita tradisional seputar penaklukan Madura, disebutkan bahwa ekspedisi tersebut dipimpin oleh Aria Jaya Puspita atau dikenal dengan Adipati Sujanapura.

Mendengar ekspedisi tersebut, kerajaan-kerajaan kecil di Madura seperti Kerajaan Sumenep, Pamekasan, Belega, maupun Pakacangan, akhirnya mempersiapkan diri dan menyatukan kekuatan dengan pasukannya yang berjumlah seratus ribu prajurit.

Pertempuran dan Penaklukan: Penderitaan Madura di Bawah Mataram

Pertempuran pertama antara Mataram dengan Madura terjadi pada 1 Juli 1624.

Pertempuran tersebut berlangsung selama dua belas jam hingga membuat pasukan-pasukan Madura kewalahan dan melarikan diri.

Pada malam harinya, tidak disangka pasukan Madura yang hanya berjumlah empat ratus orang melakukan operasi untuk melakukan penyerangan dan pembunuhan besar-besaran terhadap prajurit Mataram.

Sujanapura sebagai pemimpin prajurit Mataram pun terbunuh pada saat tengah bersenang-senang di suatu pondokan, yang kedudukannya digantikan oleh Adipati Pragola.

Dalam kondisi demikian, Pangeran Silarong dikirim ke Mataram untuk meminta bantuan.

Hingga akhirnya, Sultan Agung pun mengutus Juru Kiting, seorang petapa yang sudah tua.

Di bawah pimpinannya, pasukan Mataram berhasil mencapai kemenangan hingga para adipati Madura pun banyak yang terbunuh.

Pada awal Agustus 1624, seluruh Madura, baik kota maupun desa berhasil ditaklukkan oleh Mataram.

Pada akhir September 1624, salah seorang adipati Madura yang masih hidup, yaitu Raden Praseno, atas perintah Sultan Agung dibawa ke Mataram beserta seribu pengikut dari Madura.

Setelah dewasa, Raden Praseno dinikahkan dengan adik perempuan Sultan Agung dan dianugerahi gelar Cakraningrat 1 (1624-1648 M).

Raden Praseno pun kemudian memperoleh kekuasaan di seluruh Madura yang berpusat di Sampang. Sepeninggalnya, ia digantikan oleh Cakraningrat II.

Warisan Penaklukan: Duka, Tekanan, dan Resistensi Madura

Dalam perkembangannya, Mataram tidak banyak mendapatkan simpati masyarakat Madura karena sejak awal, pengaruh Mataram atas Madura dimasukkan dengan cara-cara yang represif.

Dalam peristiwa di masa lalu, para penguasa lokal Madura banyak yang dibunuh.

Ditambah lagi, sepeninggal Sultan Agung, raja-raja Mataram banyak melakukan kompromi dengan VOC hingga terjadi beberapa pemberontakan.

Periode Madura berada di bawah Mataram merupakan masa-masa yang penuh dengan tekanan.

Politik ekspansi Sultan Agung yang represif menyebabkan banyaknya jumlah tahanan Madura, termasuk kaum wanita dan anak-anak.

Hingga bulan Oktober 1624-M, keseluruhan tahanan tersebut berjumlah seratus ribu jiwa.

Tak Hanya Belajar, Rekonstruksi Genealogi Sejarah: Demi Fondasi Identitas yang Membanggakan

Dengan demikian, diskusi mendalam dalam Ajhâr Ampaghân ini telah berhasil menelusuri jejak sejarah Madura Barat.

Pembahasannya dari pelbagai dimensi: arkeologis, politik, hingga kultural, serta mengurai kompleksitas penentuan hari jadi Kabupaten Sampang yang tidak lepas dari narasi kolonial dan pergolakan kekuasaan.

Perbincangan ini tidak hanya mengingatkan akan urgensi rekonstruksi genealogi yang lebih komprehensif.

Namun juga menegaskan pentingnya memilih momentum penanda historis yang inspiratif dan membanggakan, alih-alih sekadar merujuk pada tahun kekalahan dan duka.

Semoga geliat akademis dan kegairahan menelusuri akar sejarah seperti ini terus menyala.

Sehingga identitas Sampang dan Madura Barat ke depan dapat dibangun di atas fondasi pemahaman masa lalu yang kritis, bernas, dan membebaskan.

Hasani Utsman adalah pembaca dan penulis seputar Madura, menulis beberapa karya, baik fiksi atau non-fiksi, akan menerbitkan buku berjudul "Filsafat Humor Madura".

Baca Juga
Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Refleksi Perjalanan Panjang H. Yuliadi Setiyawan di Ujung Masa Purna Tugas

Legenda Sumber Omben Sampang & Kisah Kudho Panule

Legenda Sumber Omben Sampang & Kisah Kudho Panule

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Makan Bergizi Gratis: Di Mana Posisi Petani dan Sekolah Pelosok Madura?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Menggugat Nahdlatul Ulama: Sampai Kapan Amnesia Sejarah?

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar