
Sejarah seringkali tidak hanya ditulis oleh peristiwa-peristiwa besar, tetapi juga oleh kisah-kisah ketulusan, janji, dan perjuangan yang bermula dari tempat-tempat yang sederhana.
Dalam lembaran sejarah Nusantara, terselip kisah-kisah para ulama pejuang yang tidak hanya gigih membela iman, tetapi juga rela mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan tanah air.
Di balik tembok-tembok tenang pondok pesantren di Indonesia, tersimpan narasi-narasi heroik yang menjadi saksi bisu pertautan antara ilmu agama, semangat kebangsaan, dan pengorbanan.
Sebuah langgar kecil di sebuah dusun terpencil madura menjadi cikal bakal perjalanan hidup seorang syuhada.
Sekitar tahun 1930-M, di Dusun Sumber Batu Desa Blumbungan Pamekasan, berdiri sebuah langgar tempat mengaji Al-Qur’an yang dikelola oleh Haji Nawawi, seorang kepala desa.
Haji Nawawi sering sowan ke Kiai Marzuqi di Sumber Anyar Pamekasan, terutama di masa ketika desa Blumbungan sering diganggu oleh seorang maling yang sakti yang licin dan susah sekali ditangkap.
Haji Nawawi kemudian meminta jimat kepada Kiai Marzuqi Sumber Anyar, agar maling yang meresahkan itu segera bisa ditangkap.
Jimat sederhana dari Kiai Marzuqi diberikan, berupa tulisan dengan aksara Arab “bismillahirrahmanirrahim.”
Tidak lama kemudian, maling itu benar-benar bisa ditangkap. Haji Nawawi kemudian merasa punya hutang budi kepada Kiai Marzuqi bin Sukriwa Sumber Anyar.
Haji Nawawi kemudian meminta agar Kiai Marzuqi bersedia menempati tanahnya di Sumber Batu yang sudah berdiri langgar di atasnya.
Namun seiring waktu, Kiai Marzuki tidak kunjung pindah ke Sumber Batu karena beberapa alasan.

Lora Djufri, putra Kiai Marzuki, biarpun masih berumur belasan tahun sudah sering sekali berdakwah ke berbagai daerah di Pamekasan Utara dan Sumenep.
Ketika berangkat dan pulang berdakwah, di mana harus melewati Sumber Batu, Lora Djufri menjadikan langgar di Sumber Batu sebagai tempat singgahnya.
Hingga wafat (diperkirakan tahun 1935-M), Kiai Marzuqi tidak sempat menempati tanah pemberian Haji Nawawi di Sumber Batu.
Tanah di Sumber Batu akhirnya ditempati oleh KH. M. Djufri Marzuqi, putranya yang belum lama melangsungkan pernikahan pada tahun 1944-M.
Sejak tahun itu, Kiai Djufri sudah kerap didatangi para santri yang ingin menimba ilmu kepadanya. Setelahnya, Pondok Pesantren Sumber Batu berkembang sebagai pondok tanpa nama hingga tahun 1965-M.
Sebagai seorang pendakwah dan pejuang, Kiai Djufri Marzuqi menginginkan hidup dan matinya memang untuk perjuangan.
Di masa hidupnya ia memang telah memanjatkan doa, salah satu doanya adalah; “Tuhan, hidup dan matikan hamba di medan juang, jangan hidup dan matikan hamba di atas ranjang.”
Di zaman Revolusi Fisik, Kiai Djufri memangku beberapa jabatan dalam Barisan Pemuda Sabilillah (BPS), seperti Kepala Seksi Bidang Kelaskaran, Kordinator Bidang Komunikasi dan Penerangan, hingga sebagai Kepala Staf Kesatuan Militer dalam Markas Besar Sabilillah (MBS).
Sejak tahun 1947, Kiai Djufri membantu perjuangan gerilyawan di tanah Jawa dengan bergerilya di sekitar Gunung Kawi Malang sampai tahun 1949.
Setelah Indonesia benar-benar merdeka, selain menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sumber Batu, Kiai Djufri Aktif di Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI).
Tapi kemudian, setelah menjalani ragam dinamika politik, ideologi hingga spiritual, Kiai Djufri memutuskan menjadikan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah perjuangan guna mengisi kemerdekaan.
Di Nahdlatul Ulama, Kiai Djufri juga memangku jabatan tak kalah penting di bidang dakwah.
Kiai Haji M. Djufri Marzuqi dibunuh pada hari Rabu, tanggal 28 Juli tahun 1965-M di Sampang, setelah menghadiri undangan dakwah di Bangkalan, pada bulan Maulid.
Terjadi tragedi yang menjadi isu nasional setelah banyak mendapatkan liputan dari berbagai media anti-komunis.
Berita itu yang kemudian segera sampai kepada Kiai Haji Idham Chalid (1921-2010-M), yang waktu itu menjabat sebagai JM. Menko W. K. Ketua MPRS, ketua Pimpinan Nasional Missi Islam dan ketua Umum PBNU.
Kiai Idham Chalid kemudian berjanji akan takziah ke Sumber Batu pada peringatan empat puluh hari wafatnya Kiai Djufri.
Selain untuk melayat, juga untuk memberi gelar kepada Kiai Djufri atas apa yang sudah diberikan kepada Nahdlatul Ulama khususnya dan umat Islam pada umumnya.
Kiai Idham Chalid datang dari Jakarta dan sesampainya di Madura ia dikawal sepenuhnya oleh seluruh pengurus Nahdlatul Ulama se-Madura.
Ratusan ribu massa menyambut kedatangannya. Pada kesempatan itu juga diadakan rapat semacam tabligh akbar saat ini.
Di Sumber Batu, juga dilakukan upacara di mana Kiai Idham Chalid kemudian memberikan sambutan khusus.
Ada beberapa hal yang disampaikan Kiai Idham di Sumber Batu seperti diceritakan dalam Ichtisar Riwajat Hidup Alustadul Alimun Dakwatul Islam K. H Djufri Marzuqi Assjahidul Kabir tulisan Kiai Chalil Minhadji.
Kiai Idham Chalid meminta maaf kepada para hadirin karena tidak bisa berbahasa Madura.
Dalam kitab syi’ir berjudul: Panèka Syi’ir Carètana sè Moljâ Kèyaè Djufri Marzuqi Sombher Bâṭo atau Ini Syi’ir Ceritanya yang Mulia Kiai Djufri Marzuqi Sumber Batu, terdapat bab khusus tentang Kiai Idham Chalid ketika berada di Sumber Batu.
Bab itu berjudul: Idham Chalid Waktu Memberikan Nasehat (Idham Chalid Wakto Anasehat) yang banyak merekam situasi kondisi keislaman dan ke-Indonesiaan saat itu.
Upacara itu ditutup dengan serah-terima penganugerahan gelar Sang Syahid Agung, Asy-syahīdul Kabīr kepada Kiai Djufri.
Gelar untuk Kiai Djufri tersebut kemudian diabadikan menjadi nama pondok pesantren yang didirikan oleh Kiai Djufri di Sumber Batu tahun 1944, menjadi Pondok Pesantren Asy-syahīdul Kabīr Sumber Batu.
Pada upacara itu, para hadirin banyak yang menangis karena mengingat Kiai Djufri.
Kiai Idham Chalid kemudian melarang mereka menangis, tetapi pada akhirnya Kiai Idham Chalid juga larut dalam suasana dan ikut menangis.
Ia kemudian mengimbau agar segenap umat Islam di Madura melanjutkan perjuangan Kiai Djufri untuk Islam dan Tanah Air.