
MADURAPEDIA – Apa itu Tari Topeng Gethak? Dalam setiap dentuman kendang dan lincahnya gerak penari, tersembunyi sebuah cerita tentang warisan budaya Madura yang berusia ratusan tahun.
Inilah Tari Topeng Gethak, sebuah mahakarya seni dari Madura yang tidak hanya memanjakan mata tetapi juga sarat dengan makna filosofis yang dalam.
Artikel ini akan mengajak Anda menyelami sejarah, elemen, dan filosofi di balik topeng kayu yang ikonik tersebut, serta kaitannya yang erat dengan kesenian wayang kulit.
Mari kita jelajahi kekayaan budaya Nusantara yang satu ini sebelum ia punah termakan zaman.
Awalnya, tarian ini lebih dikenal dengan nama Tari Klonoan, yang mengambil nama dari karakter topeng yang digunakan, yaitu Klono atau Klana.
Seiring waktu, masyarakat lebih familiar menyebutnya “Gethak” atau “Ghettâ'” (dibaca: ghettâ’), sebuah istilah onomatope yang terinspirasi dari bunyi kendang yang bersahutan “Ghet…tta…Ghet…tta…”. Bunyi kendang yang energik dan mengejutkan inilah yang menjadi jiwa dari tarian ini.
Tari Topeng Gethak berfungsi sebagai pembuka pertunjukan kesenian teater rakyat Madura yang legendaris, yaitu Loddrok Sandhur, yang masih eksis hingga saat ini.
Perkembangannya menunjukkan proses demokratisasi kesenian, yang awalnya mungkin dikenal di kalangan keraton, namun akhirnya bisa dinikmati dan menjadi kebanggaan masyarakat luas.
Sebagai pembuka sebuah acara besar, Tari Topeng Gethak dituntut untuk langsung memikat perhatian penonton.
Hal ini diwujudkan melalui berbagai elemen pertunjukan yang memukau dan penuh detail. Berikut adalah elemen-elemen kunci yang menyusun sebuah pertunjukan Tari Topeng Gethak:
Yang menarik untuk dikulik adalah filosofi mendalam yang dibawa oleh tarian ini. Karakter topeng yang digunakan, yaitu Klono atau Klana, merepresentasikan sosok Baladewa (Kakak Krishna) dari epos Mahabharata.
Dalam wayang kulit, Baladewa digambarkan sebagai tokoh yang kuat, tegas, dan memiliki prinsip yang lurus. Filosofi ini kemudian diterjemahkan ke dalam setiap gerakan penari yang tegas, dinamis, dan penuh wibawa.
Biasanya, ada tiga penari yang menggunakan topeng karakter yang sama, menari dengan gerakan yang disesuaikan irama kendang, yang bisa dimaknai sebagai semangat kolektivitas dan kekuatan yang terpadu.
Tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan antara Tari Topeng Gethak dan wayang kulit sangatlah kuat. Tarian ini dapat dilihat sebagai transformasi visual dari tokoh-tokoh wayang kulit yang biasanya hanya dilihat dari bayangannya.
Gerakan-gerakan tari yang khas dan kostum yang dramatis merupakan upaya untuk menghadirkan karakter wayang ke dalam bentuk tiga dimensi yang lebih hidup dan dapat dinikmati langsung oleh penonton.
Hal ini menunjukkan betapa wayang kulit telah menginspirasi banyak bentuk kesenian lain di Nusantara, termasuk salah satunya adalah sejarah Tari Topeng Ghettâ’ Pamekasan yang tak terlepas dari pengaruh cerita wayang.
Meski berasal dari akar cerita yang sama, terdapat perbedaan topeng Madura dan Jawa yang cukup signifikan.
Topeng Gethak dari Madura cenderung memiliki ukuran yang lebih kecil, lebih ringan, dan dengan detail ukiran serta warna yang khas daerahnya.
Perbedaan ini tidak hanya pada bentuk fisik, tetapi juga pada penekanan karakter dan gaya tarinya, yang disesuaikan dengan selera dan lokalitas budaya masyarakat Madura.
Tari Topeng Gethak adalah salah satu permata dari khazanah budaya Indonesia yang patut kita jaga. Keberadaannya yang sering mengiringi pertunjukan Loddrok Sandhur Madura adalah bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Upaya pelestarian dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari mendokumentasikan pertunjukan, memperkenalkannya ke generasi muda, hingga mendukung langsung para seniman lokal.
Yuk, jadi bagian dari pelestarian warisan budaya! Cari tahu jadwal pertunjukan Tari Topeng Gethak di daerahmu dan saksikan langsung keagungannya. Bagikan pengalamanmu untuk menginspirasi orang lain!
#TopengGethak #BudayaMadura #WarisanNusantara #TariTradisional
Tari Topeng Ghettâ’ memiliki hubungan yang sangat erat dengan Wayang Kulit Madura.
Tarian ini dapat dikatakan sebagai transformasi visual dari tokoh-tokoh wayang, khususnya dalam menggambarkan sosok Baladewa dari kisah Mahabharata.
Karakter kuat, tegas, dan luhur dari wayang diwujudkan ke dalam gerakan tari yang dinamis dan penuh wibawa.
Nama “Ghettâ'” berasal dari bunyi onomatope atau tiruan terhadap bunyi kendang yang ditabuh secara keras dan bersahutan, yaitu “Ghet…tta…Ghet…tta…”.
Dalam konteks bahasa Madura, kata “ghettâ'” sendiri juga dikaitkan dengan makna mengejutkan atau sesuatu yang dibunyikan dengan keras, yang sesuai dengan karakter musik pengiringnya.
Tari Topeng Gethak biasanya berfungsi sebagai pembuka pertunjukan teater rakyat Loddrok Sandhur.
Selain itu, tarian ini juga sering ditampilkan dalam berbagai hajatan desa atau acara adat masyarakat Madura, seperti dalam rokat tasè’ (selamatan laut) dan upacara-upacara adat lainnya sebagai bentuk hiburan dan pelestarian budaya.
Sumber Referensi: