
Bangkalan, 14 Oktober 2025 – Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Trunojoyo Madura (UTM) resmi membuka Desa Wisata Kampung Batik Paseseh di Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
Inisiatif ini menjadi langkah strategis universitas dalam memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya lokal sekaligus menjaga kelestarian warisan batik Madura sebagai identitas budaya bangsa.
Acara pembukaan dipimpin oleh Dr. Ernaning Widiaswanti, S.Si., M.T., bersama anggota tim pengabdian:
Turut hadir Toyyinah, Ketua Komunitas UMKM Kembang Pote Batik Paseseh, bersama para pengrajin batik lokal yang selama ini menjadi mitra binaan program.
“Kami ingin menghadirkan inovasi yang tak sekadar menjaga budaya batik Madura, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui branding, digitalisasi, dan pengembangan wisata edukatif,” jelas Dr. Ernaning Widiaswanti.
Dalam acara tersebut, Tim Pengabdian UTM menyerahkan beragam fasilitas pendukung usaha dan pariwisata batik kepada komunitas UMKM setempat, di antaranya:
Program ini merupakan bagian dari Skema Pengabdian Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun 2025, hasil pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Teknologi, Kemendikbudristek.
Tidak berhenti di sisi fasilitas, kegiatan pengabdian ini juga menyentuh sektor kapasitas SDM dan pemasaran digital, meliputi:
Harapannya, ke depan Paseseh tumbuh menjadi desa wisata batik edukatif yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Kehadiran Desa Wisata Kampung Batik Paseseh disambut penuh antusias oleh masyarakat.
Warga menilai program ini bukan hanya memajukan potensi batik lokal, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang bisa menahan laju urbanisasi sekaligus memperkuat identitas desa.
“Kami sangat senang karena kini Paseseh punya galeri dan program wisata membatik. Semoga semakin banyak pengunjung datang ke desa kami,” ujar salah satu pengrajin batik dengan wajah berseri.

Program dari UTM ini diharapkan menjadi role model bagi pemberdayaan desa berbasis budaya di seluruh Madura—menghubungkan heritage dengan inovasi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.
Kawasan Tanjung Bumi, Bangkalan, memang dikenal sebagai pusat batik tulis paling khas di Pulau Madura.
Warna-warnanya berani, motifnya simbolis, dan teknik pewarnanya masih mengandalkan cara tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Dengan sentuhan akademisi dan digitalisasi dari UTM, kini potensi besar itu semakin mudah diakses wisatawan maupun pembeli dari berbagai daerah.
Untuk mengembangkan desa wisata berbasis batik Madura, memperkuat ekonomi kreatif masyarakat, serta melestarikan budaya lokal.
Tim Pengabdian Masyarakat dari Universitas Trunojoyo Madura (dosen dan mahasiswa), bersinergi dengan UMKM Kembang Pote Batik Paseseh dan pengrajin lokal.
Mulai dari kain bahan batik, website UMKM, katalog, hingga penataan galeri mini batik serta pelatihan digital marketing dan komunikasi usaha.
Program ini dibiayai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kemendikbudristek RI.
Agar Desa Paseseh menjadi destinasi wisata edukatif berbasis batik Madura yang mampu bersaing hingga level nasional bahkan internasional.
Langkah Universitas Trunojoyo Madura (UTM) meresmikan Desa Wisata Kampung Batik Paseseh di Bangkalan bukan hanya upaya pelestarian budaya, tapi juga contoh nyata integrasi antara pendidikan, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui dukungan akademisi dan semangat para pengrajin lokal, Paseseh kini punya wajah baru sebagai sentra wisata batik Madura yang edukatif, modern, dan tetap autentik.
Dengan sinergi kampus dan masyarakat, Madura tidak hanya menjaga warisan, tapi juga menenun masa depan.
Sumber Berita