Seperti Apa Orang Madura di Mata Cak Nun?

Seperti Apa Orang Madura di Mata Cak Nun?
Cak Nun atau akrab disapa Mbah Nun yang memulai forum Maiyahan

Madura Bukanlah Karikatur: Melihat Manusia di Balik Label

MADURAPEDIA – Seperti apa orang Madura di mata Cak Nun? Pandangan Beliau tentang orang Madura berangkat dari penolakan terhadap generalisasi dan stigmatisasi. Ia tidak melihat Madura sebagai monolit, melainkan sebagai sekumpulan manusia yang kompleks dan beragam, sama seperti suku-suku lainnya di Nusantara. Bagi Cak Nun, menstereotipkan seluruh populasi berdasarkan perilaku segelintir orang adalah tindakan yang tidak adil dan tidak cerdas.

Dalam salah satu sesi Maiyah, Cak Nun kerap mengingatkan, “Kita ini sering terjebak pada ‘pagar’. Kita melihat pagar kerasnya Madura, tapi lupa melihat kebun di dalamnya yang penuh dengan bunga dan buah.” Pagar itu adalah stereotip kekerasan, sementara kebunnya adalah seluruh kekayaan kultural, spiritual, dan kemanusiaan yang dimiliki oleh orang Madura. Pendekatan ini mendorong kita untuk melihat lebih dalam, melampaui “pagar” untuk memahami “kebun” seutuhnya.

Kekuatan dan Kearifan Lokal Madura

Alih-alih berfokus pada sisi negatif, Cak Nun justru menyoroti berbagai kekuatan dan kearifan lokal orang Madura yang patut diapresiasi:

  1. Spiritualitas yang Nyata dan Membumi: Cak Nun melihat orang Madura memiliki spiritualitas yang tidak melulu teoritis, tetapi praktis dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Ibadah dan keyakinan tidak hanya dilakukan di masjid, tetapi juga diejawantahkan dalam semangat kerja, kesetiaan pada keluarga, dan keberanian menghadapi tantangan hidup. Spiritualitas ini menjadi motor penggerak yang powerful.
  2. Filosofi “Abhantal Syahadat, Asaputrana Sadat”: Dalam berbagai kesempatan, Cak Nun mengutip filosofi hidup orang Madura yang mendalam: Abhantal Syahadat, Asaputrana Sadat (Berselimutkan Syahadat, Beralaskan Ibadah). Frasa ini, seperti dikutip dari buku “Madura: 1000 Tahun Gelisah” karya M. Faizi, menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam menjadi landasan utama setiap gerak dan perilaku orang Madura. Bagi Cak Nun, ini adalah sebuah komitmen hidup yang langka dan patut dihargai. (Sumber: Faizi, M. “Madura: 1000 Tahun Gelisah”, Penerbit Ombak, 2018).
  3. Semangat Kemandirian dan Kejujuran: Cak Nun mengagumi semangat kemandirian dan kejujuran yang dimiliki banyak orang Madura. Ia melihatnya dalam semangat para perantau yang gigih bekerja, mulai dari pedagang hingga pemilik tambak. Kejujuran dalam berdagang dan kesederhanaan hidup adalah nilai-nilai yang sering ia angkat sebagai contoh.

Madura dalam Bingkai Maiyah: Dari Konflik Menjadi Solusi

Komunitas Maiyah yang digagas Cak Nun menjadi ruang di mana berbagai isu, termasuk tentang Madura, didiskusikan secara cair dan penuh hikmah. Cak Nun tidak pernah mendorong sikap defensif atau membela secara membabi-buta. Sebaliknya, ia menggunakan pendekatan khas Maiyah: ngudi kautaman (mencari kebaikan/kemuliaan).

Ketika terjadi konflik yang melibatkan orang Madura, Cak Nun tidak sibuk menyalahkan pihak luar atau membenarkan kelompoknya sendiri. Ia justru mengajak semua pihak, termasuk orang Madura, untuk melakukan introspeksi. Ia mendorong agar energi besar yang dimiliki orang Madura—yang kadang meledak menjadi amuk—dialihkan menjadi kekuatan membangun. Dalam sebuah Sinau Bareng, ia pernah berpesan, “Jadikanlah kekuatan fisik dan mental orang Madura itu untuk membangun peradaban, bukan untuk merusak.”

Pemikiran Cak Nun ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh budayawan Abdul Rozak Zaid dalam artikelnya “Membaca Madura Melalui Kacamata Cak Nun”. Zaid menulis, “Cak Nun tidak sedang membela Madura, tetapi membela kebenaran dan kemanusiaan yang sering kali tertutup oleh kabut prasangka. Ia membuka ruang dialog agar Madura bisa dipahami sebagai subjek, bukan sekadar objek pemberitaan.” (Sumber: Zaid, Abdul Rozak. “Membaca Madura Melalui Kacamata Cak Nun”, dalam Jurnal Kebudayaan Basis, Vol. 68, 2019).

Relevansi Pandangan Cak Nun di Era Kini

Di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi dan mudah menyebar ujaran kebencian, pandangan Cak Nun tentang orang Madura justru semakin relevan:

  1. Penangkal Hoaks dan Stereotip: Pemikiran humanis Cak Nun berfungsi sebagai penangkal bagi hoaks dan narasi negatif yang menyudutkan suatu etnis tertentu.
  2. Pendidikan Karakter: Nilai-nilai keteguhan, spiritualitas, dan kemandirian orang Madura yang ia soroti dapat menjadi bahan renungan dan pembelajaran bagi seluruh anak bangsa.
  3. Pemersatu Bangsa: Dengan menolak stigmatisasi dan mengajak semua pihak untuk melihat kemanusiaan yang utuh, Cak Nun berkontribusi besar dalam merajut tenun kebangsaan yang lebih inklusif.

Memahami dengan Hati, Melihat dengan Nalar

Pandangan Cak Nun mengenai orang Madura pada akhirnya adalah sebuah undangan. Undangan untuk berhenti menghakimi berdasarkan prasangka dan mulai memahami dengan hati serta melihat dengan nalar yang jernih. Ia mengajak kita untuk tidak lagi melihat Madura sebagai “masalah” yang harus ditakuti, tetapi sebagai “khazanah” kemanusiaan yang perlu dipelajari dan dihargai.

Dalam perspektif Cak Nun, orang Madura adalah bagian tak terpisahkan dari mozaik Indonesia yang indah dan berwarna-warni. Dengan memahami pandangannya, kita tidak hanya menjadi lebih arif dalam memandang Madura, tetapi juga lebih bijak dalam memandang setiap perbedaan yang ada di negeri ini.

Terjebak sebagai pegiat media yang kadang giat, kadang tidak. Saat ini sedang mengasuh Madurapedia dengan cara suka-suka.

Baca Juga
Legenda Sumber Omben Sampang & Kisah Kudho Panule

Legenda Sumber Omben Sampang & Kisah Kudho Panule

Adat Pernikahan Madura: Tata Rias hingga Tayub

Adat Pernikahan Madura: Tata Rias hingga Tayub

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Mengaji Fikih Keris Madura kepada Kyai Salehoddin Aeng Sareh

Makna Malam Satu Suro: Tradisi Madura yang Sarat Filosofi Spiritual

Makna Malam Satu Suro: Tradisi Madura yang Sarat Filosofi Spiritual

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Seputar Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan: Pancer Ampel yang Menurunkan Para Tokoh dan Ulama Besar

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet

Uniknya Tradisi Haji di Madura: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Hutang Sosial” dalam Tradisi Lam-Salam dan Bet-Selabet