
Bangkalan — Di tanah Madura, jagung bukan sekadar lauk—ia pernah jadi pangan pokok. Jejak itu masih terasa dalam semangkuk Soto Jagung: soto berkuah merah khas Madura yang memakai lontong berbahan jagung dan ditaburi jagung goreng (marning). Jarang yang menjual, namun Supi, perajin batik yang juga pedagang soto, memilih untuk melestarikannya.
“Sotonya pun tidak lepas dari bahan jagung,” tutur Supi di warung belakang rumahnya, Jalan KH Moh Kholil, Bangkalan (Minggu, 26/4/2015).
Soto Jagung adalah soto bumbu merah khas Madura yang:
Menurut Supi, di masa ketika jagung jadi pangan utama warga, soto pun mengikuti bahan pokok itu: “Bahkan lontongnya pun banyak mengandung jagung.”
Supi mengenang hanya ada sedikit penjual. Sosok terakhir yang diingatnya adalah Mbah Makki di kawasan Bancaran, Bangkalan. Setelah beliau wafat, soto ini sempat “menghilang”. Kini, upaya kecil Supi menghidupkan kembali memori rasa itu.
Soto Jagung bukan sekadar menu unik, tapi arsip hidup tentang relasi orang Madura dengan jagung—pangan yang membentuk kebiasaan, rasa, dan identitas. Harapannya, semakin banyak penikmat yang mencoba, semakin besar peluang menu ini bertahan lintas generasi.
A: Penggunaan lontong jagung dan taburan marning. Kuahnya juga bumbu merah khas Madura.
A: Kuahnya bercorak merah rempah; level pedas bisa disesuaikan sambal/jeruk nipis.
A: Penjualnya sangat terbatas; lebih bersifat usaha keluarga dan pelestarian.