
MADURAPEDIA – Seperti apa orang Madura di mata Cak Nun? Pandangan Beliau tentang orang Madura berangkat dari penolakan terhadap generalisasi dan stigmatisasi. Ia tidak melihat Madura sebagai monolit, melainkan sebagai sekumpulan manusia yang kompleks dan beragam, sama seperti suku-suku lainnya di Nusantara. Bagi Cak Nun, menstereotipkan seluruh populasi berdasarkan perilaku segelintir orang adalah tindakan yang tidak adil dan tidak cerdas.
Dalam salah satu sesi Maiyah, Cak Nun kerap mengingatkan, “Kita ini sering terjebak pada ‘pagar’. Kita melihat pagar kerasnya Madura, tapi lupa melihat kebun di dalamnya yang penuh dengan bunga dan buah.” Pagar itu adalah stereotip kekerasan, sementara kebunnya adalah seluruh kekayaan kultural, spiritual, dan kemanusiaan yang dimiliki oleh orang Madura. Pendekatan ini mendorong kita untuk melihat lebih dalam, melampaui “pagar” untuk memahami “kebun” seutuhnya.
Alih-alih berfokus pada sisi negatif, Cak Nun justru menyoroti berbagai kekuatan dan kearifan lokal orang Madura yang patut diapresiasi:
Komunitas Maiyah yang digagas Cak Nun menjadi ruang di mana berbagai isu, termasuk tentang Madura, didiskusikan secara cair dan penuh hikmah. Cak Nun tidak pernah mendorong sikap defensif atau membela secara membabi-buta. Sebaliknya, ia menggunakan pendekatan khas Maiyah: ngudi kautaman (mencari kebaikan/kemuliaan).
Ketika terjadi konflik yang melibatkan orang Madura, Cak Nun tidak sibuk menyalahkan pihak luar atau membenarkan kelompoknya sendiri. Ia justru mengajak semua pihak, termasuk orang Madura, untuk melakukan introspeksi. Ia mendorong agar energi besar yang dimiliki orang Madura—yang kadang meledak menjadi amuk—dialihkan menjadi kekuatan membangun. Dalam sebuah Sinau Bareng, ia pernah berpesan, “Jadikanlah kekuatan fisik dan mental orang Madura itu untuk membangun peradaban, bukan untuk merusak.”
Pemikiran Cak Nun ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh budayawan Abdul Rozak Zaid dalam artikelnya “Membaca Madura Melalui Kacamata Cak Nun”. Zaid menulis, “Cak Nun tidak sedang membela Madura, tetapi membela kebenaran dan kemanusiaan yang sering kali tertutup oleh kabut prasangka. Ia membuka ruang dialog agar Madura bisa dipahami sebagai subjek, bukan sekadar objek pemberitaan.” (Sumber: Zaid, Abdul Rozak. “Membaca Madura Melalui Kacamata Cak Nun”, dalam Jurnal Kebudayaan Basis, Vol. 68, 2019).
Di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi dan mudah menyebar ujaran kebencian, pandangan Cak Nun tentang orang Madura justru semakin relevan:
Pandangan Cak Nun mengenai orang Madura pada akhirnya adalah sebuah undangan. Undangan untuk berhenti menghakimi berdasarkan prasangka dan mulai memahami dengan hati serta melihat dengan nalar yang jernih. Ia mengajak kita untuk tidak lagi melihat Madura sebagai “masalah” yang harus ditakuti, tetapi sebagai “khazanah” kemanusiaan yang perlu dipelajari dan dihargai.
Dalam perspektif Cak Nun, orang Madura adalah bagian tak terpisahkan dari mozaik Indonesia yang indah dan berwarna-warni. Dengan memahami pandangannya, kita tidak hanya menjadi lebih arif dalam memandang Madura, tetapi juga lebih bijak dalam memandang setiap perbedaan yang ada di negeri ini.