
Tanggal 2 Oktober 2025 menjadi hari penuh cerita dari empat kabupaten di Madura. Mulai dari Bangkalan hingga Sumenep, seluruh kepala daerah menorehkan kisah berbeda—dari suasana haru hingga agenda pembangunan.
Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Maulana Alfan Ibrahimavic, santri asal Bangkalan yang mondok di PP Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo.
Dalam takziahnya di kediaman keluarga almarhum di Desa Lomaer, Kecamatan Blega, Bupati menyerahkan bantuan sosial, memimpin doa, dan menegaskan pentingnya solidaritas.
“Ini adalah duka kita bersama. Semoga almarhum husnul khatimah dan keluarga diberi kesabaran,” ucapnya.
Di Pamekasan, Bupati KH Kholilurrahman menjadi inspektur upacara dalam peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang digelar di Lapangan Nagara Bhakti Mandhapa Aghung Ronggosukowati.
Upacara berjalan khidmat dengan tema Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya. Dalam pesannya, Bupati menegaskan bahwa peringatan ini jangan hanya seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam pengamalan nyata nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Bergeser ke Sampang, Bupati H. Slamet Junaidi menghadiri Groundbreaking Ceremony pembangunan Gedung Kuliah Jurusan Kesehatan Politeknik Negeri Madura (Poltera).
Direktur Poltera, Laily Ulfiyah, menekankan pembangunan ini sebagai langkah memperkuat pendidikan vokasi di Madura dan membuka lebih banyak peluang bagi generasi muda. Bupati Sampang menyampaikan dukungan penuh agar pembangunan berjalan lancar dan memberi maslahat luas bagi masyarakat.
Sementara itu, duka juga datang dari ujung timur Madura. Gempa berkekuatan 6,5 magnitudo mengguncang Pulau Sapudi pada Selasa (30/09/2025), merusak rumah serta fasilitas umum di Kecamatan Gayam dan Nonggunong.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menegaskan BPBD bersama instansi terkait langsung turun melakukan asesmen pascagempa. Dari data awal, 138 rumah warga dan sejumlah fasilitas pendidikan serta ibadah terdampak.
“Pendataan awal sangat penting agar bantuan tepat sasaran. Kami memastikan semua korban mendapat perhatian,” ujar Fauzi.
Dari duka santri Bangkalan, hikmat upacara Pancasila di Pamekasan, semangat pembangunan pendidikan di Sampang, hingga penanganan bencana di Sumenep—hari-hari ini menunjukkan dinamika Madura: penuh tantangan namun sarat solidaritas.
Singkatnya, Madura bukan hanya “pulau garam”, melainkan pulau dengan denyut sosial, budaya, pendidikan, dan solidaritas yang terus bergerak. Hari ini empat kabupaten menghadirkan empat wajah cerita—dan semuanya layak jadi bagian catatan penting perjalanan Madura.