
Budaya minum kopi masyarakat Indonesia sedang mengalami pergeseran nyata. Kopi Maksideh di Sampang, Madura, yang telah berdiri sejak 1978, jadi salah satu bukti hidup bahwa kedai kopi lokal bisa bertahan lintas generasi di tengah gempuran tren kafe modern. Sebelum bicara soal fenomena besar ini, mari kita telusuri dulu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kebiasaan ngopi orang Indonesia.
Dulu, kebanyakan orang cukup puas dengan segelas kopi saset di rumah. Sekarang, coffee shop jadi destinasi wajib, entah untuk kerja, kumpul teman, atau sekadar healing sore hari. Menariknya, tren ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan hasil dari perubahan kebiasaan yang berlangsung bertahun-tahun.
Ketua Umum Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), Daryanto Witarsa, menjelaskan bahwa perubahan tren konsumsi kopi mulai terlihat sejak pandemi Covid-19 pada 2020. Menurutnya, pandemi tidak serta-merta menambah jumlah peminum kopi baru, melainkan mengubah kebiasaan konsumen dari kopi sasetan menjadi pengunjung kafe.
Ia menambahkan bahwa kebiasaan minum kopi saset di rumah tidak benar-benar hilang, sebab pola konsumsi harian masyarakat tetap bergantung pada kopi instan yang praktis dan murah. <cite index=”11-1″>Perubahan itu justru melengkapi kebiasaan lama, bukan menggantikannya sepenuhnya.</cite>
Kilas balik ke awal tahun 2000-an, terdapat jurang pemisah cukup lebar antara penikmat kopi saset dan kopi premium di kafe. Pilihan masyarakat saat itu cenderung terbatas pada dua segmen ekstrem tersebut. Namun belakangan, kesenjangan ini kian menyempit seiring hadirnya menu yang lebih ramah di lidah, seperti es kopi susu dengan rasa manis dan ringan.

Inovasi minuman semacam ini berhasil mendorong masyarakat mulai mencoba kopi buatan coffee shop. Kebiasaan sederhana membeli es kopi susu seminggu sekali perlahan membuka jalan bagi konsumen untuk mengeksplorasi kopi di kafe yang lebih mahal, bahkan berstandar internasional. Pada akhirnya, pergeseran budaya ini membuat masyarakat Indonesia semakin terbuka menikmati variasi dan kualitas kopi yang lebih beragam.
Data dari Kementerian Pertanian memperkuat gambaran ini. Konsumsi kopi dalam negeri terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa dekade terakhir, seiring bertumbuhnya industri kedai kopi di berbagai daerah, termasuk daerah-daerah di luar kota besar seperti Madura.
Nah, di sinilah letak keunikannya. Jauh sebelum tren coffee shop modern meledak, Kedai Kopi Maksideh di Jalan Trunojoyo, Sampang, Madura, sudah lebih dulu eksis sejak 1978. Kedai ini bahkan sempat hanya melayani pegawai PLN Cabang Sampang sebelum akhirnya terbuka untuk umum dan menjadi tempat legendaris lintas generasi.
Menariknya, Maksideh justru membuktikan pola yang disampaikan Daryanto: masyarakat tidak sepenuhnya meninggalkan kebiasaan ngopi sederhana ala warung, tetapi tetap mencari kehangatan dan keaslian rasa yang autentik. Beberapa keunikan yang membuat Maksideh tetap eksis hingga kini:

| Aspek | Kafe Modern | Kopi Maksideh Sampang |
|---|---|---|
| Tahun mulai tren | Sejak pandemi 2020 | Berdiri sejak 1978 |
| Fokus produk | Variasi menu kekinian (es kopi susu, latte) | Kopi murni |
| Target pasar | Generasi muda urban | Lintas generasi, warga lokal |
| Nilai jual utama | Pengalaman & suasana kafe | Autentisitas & nostalgia rasa |
Catatan validasi: sejumlah sumber menyebut angka tahun berdirinya Maksideh berbeda, yakni 1972, sementara mayoritas sumber lain—termasuk situs resmi kedai—mencantumkan 1978. Kepastian tahun pendirian menunggu konfirmasi resmi dari pihak pengelola.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tren ngopi di Indonesia sebenarnya bukan soal kafe modern versus warung tradisional, melainkan tentang bagaimana masyarakat semakin terbuka menikmati keberagaman rasa kopi, baik yang disajikan lewat inovasi kekinian maupun yang dijaga keasliannya seperti di Kopi Maksideh.
Referensi resmi data konsumsi kopi nasional dapat diakses melalui laman resmi Kementerian Pertanian di satudata.pertanian.go.id.

Menurut sebagian besar sumber, Kopi Maksideh di Sampang, Madura, berdiri sejak tahun 1978, meski beberapa referensi lain menyebut tahun 1972 sebagai titik awal usaha ini.
Ketua Umum SCAI, Daryanto Witarsa, menjelaskan pergeseran ini mulai terlihat sejak pandemi Covid-19 pada 2020, saat kebiasaan konsumen berubah dari kopi sasetan menjadi pengunjung kafe.
Kopi Maksideh mempertahankan seduhan tradisional dengan kopi kualitas terbaik dan tanpa campuran bahan tambahan, menjadikannya simbol autentisitas di tengah maraknya tren kafe kekinian.
Penasaran seperti apa nikmatnya kopi legendaris yang bertahan hampir setengah abad? Yuk, mampir langsung ke Kopi Maksideh di Jalan Trunojoyo, Sampang, dan rasakan sendiri autentisitas rasa yang jadi saksi sejarah ngopi Madura!