
Perjuangan guru dan nakes Sampang menuju Pulau Mandangin bukan cerita biasa. Setiap hari, mereka harus menyeberang sejauh kurang lebih 15 kilometer di sisi selatan perairan Selat Madura menggunakan perahu kayu. Waktu tempuhnya sekitar satu setengah jam, dengan kondisi cuaca dan gelombang yang tidak selalu bersahabat. Mereka berangkat demi mengabdi, meski risiko selalu mengintai di tengah laut.
Pulau Mandangin sendiri berada di wilayah Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Informasi resmi daerah dapat diakses melalui situs Pemerintah Kabupaten Sampang: https://sampangkab.go.id.
Para aparatur sipil negara (ASN), baik guru maupun tenaga kesehatan, harus berlangganan kapal kayu kecil dengan biaya sekitar Rp300 ribu per bulan. Biaya itu menjadi konsekuensi rutin agar bisa menjalankan tugas pelayanan pendidikan dan kesehatan di Pulau Mandangin.
Namun tantangan tidak berhenti di tengah laut. Saat air surut, kapal tidak dapat merapat sempurna ke pelabuhan. Akibatnya, para guru dan nakes terpaksa turun ke air dan berjalan kaki menuju daratan.
Mereka tidak hanya menembus angin dan gelombang, tetapi juga harus basah kuyup demi sampai ke tempat tugas.
Baca juga: Rekomendasi Wisata Pantai di Sampang yang Wajib Dikunjungi
Kondisi dermaga di Pulau Mandangin dinilai belum memadai untuk mendukung aktivitas transportasi rutin. Saat surut, kapal kesulitan bersandar sehingga membahayakan penumpang.
Perbaikan infrastruktur dermaga menjadi kebutuhan mendesak. Pembangunan dermaga yang layak akan memungkinkan kapal merapat dengan aman tanpa memaksa penumpang turun ke laut.
Berikut beberapa kebutuhan yang mendesak:
Para guru dan tenaga kesehatan berharap ada realisasi konkret dari pemerintah daerah maupun pusat untuk memperbaiki akses transportasi penghubung Sampang dan Pulau Mandangin.
Transportasi yang aman bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga keselamatan dan keberlanjutan layanan publik. Pendidikan dan kesehatan di wilayah kepulauan sangat bergantung pada akses yang stabil.
Jika akses laut lebih aman, pelayanan kepada masyarakat Pulau Mandangin pun akan semakin optimal.
Perjuangan panjang di perjalanan tentu berdampak pada stamina dan efektivitas kerja. Meski begitu, para guru tetap mengajar dan nakes tetap melayani pasien setibanya di pulau.
Kondisi ini menunjukkan dedikasi tinggi ASN di wilayah kepulauan. Namun dedikasi saja tidak cukup tanpa dukungan infrastruktur yang memadai.
Jarak tempuh sekitar 15 kilometer melalui jalur laut di Selat Madura dengan waktu perjalanan kurang lebih satu setengah jam menggunakan perahu kayu.
ASN yang bertugas di Pulau Mandangin harus berlangganan kapal kayu kecil dengan biaya sekitar Rp300 ribu per bulan.
Karena saat air laut surut, kapal tidak bisa merapat ke pelabuhan. Penumpang terpaksa turun ke laut, sehingga berisiko terhadap keselamatan.
Perjuangan guru dan nakes Sampang ke Pulau Mandangin adalah cermin pengabdian tanpa pamrih. Kini, dukungan nyata berupa perbaikan dermaga dan transportasi laut yang aman menjadi harapan bersama.
Mari kita dorong perhatian lebih pada wilayah kepulauan agar pelayanan publik semakin merata.
Sumber berita RRI