
Stereotip “Madura terbelakang” sering muncul di ruang publik. Padahal, budaya Madura kaya nilai filosofis yang kerap disalahpahami.
Salah satunya adalah tradisi carok, yang sering dianggap sekadar bacok-bacokan. Faktanya, carok adalah sikap hidup untuk melawan kesewenang-wenangan, bukan ajang kekerasan tanpa makna.
Dalam struktur sosial Madura, laki-laki diharapkan bekerja keras di luar rumah, sementara perempuan menjadi simbol kehormatan dan pusat keluarga.
Taneyan Lanjhang bukan sekadar rumah, melainkan filosofi hidup yang menempatkan perempuan sebagai “tempat pulang” dan laki-laki sebagai penjaga kehormatan.
Data BPS menunjukkan rata-rata lama sekolah di Madura masih rendah: Bangkalan 6,01 tahun, Sampang 5,08 tahun, Pamekasan 7,17 tahun, dan Sumenep 6,10 tahun.
Rendahnya akses pendidikan, ditambah feodalisme dan politik oligarkis, membuat stereotip negatif semakin melekat.
| Tahun | IPM Jatim | Keterangan |
|---|---|---|
| 2023 | 74,65 | — |
| 2024 | 75,35 | Naik 0,70 poin (0,94%) |
Meski meningkat, kesenjangan antarwilayah masih terasa, terutama di Madura.
Madura bukan sekadar cerita carok dan kekerasan. Pulau ini menyimpan filosofi hidup yang menekankan kerja keras, kehormatan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Tantangannya adalah bagaimana pendidikan dan sistem politik bisa mendukung nilai luhur tersebut, bukan justru melanggengkannya dalam bentuk salah kaprah.
Tonton videonya di sini.